Page 1
Standard

Jepang? Masih Seperti Mimpi

IMG_5982sFlash back 6 tahun yang lalu saya pernah menuliskan beberapa cita-cita dalam sebuah buku yang saya sebut dreams book. Entah apa yang mendorong saya menuliskan Jepang sebagai salah satu negara yang ingin saya tuju. Tahun demi tahun pun telah berlalu. Bahkan pemikiran mulai nglantur kesana kemari. Muncul begitu banyak mimpi yang ingin berlabuh diberbagai negara di bumi ini. Akan tetapi kekuatan bawah sadar itu benar-benar terwujud.

September 2016 adalah bulan dimana saya benar-benar menginjakkan kaki di Tokyo, Jepang. Bukan lagi sebuah tulisan akan mimpi belaka, tetapi sekarang saya menuliskan kembali sebuah tulisan akan mimpi yang telah terwujud. Mungkin sebagian orang pulang pergi keluar negeri adalah hal yang biasa. Tetapi bagi saya, pengalaman ke Jepang kali ini adalah salah satu pencapaian terbesar bagi saya. Menjadi salah satu panitia di event international bernama Youth Excursion Japan 2016 adalah cara Tuhan mengantarkan saya pada mimpi tersebut. So, mungkin saya tidak akan pernah sampai Jepang jika saya harus menunggu memiliki uang pribadi. Trus, sekarang mau menuliskan mimpi apa lagi?

 

Bagaimana persiapan dan pengalaman saya selama di Jepang? see on the next post!

Standard

Menikmati Grab Car di Tiga Negara

 GrabCar-620x300-610x300 Akhir bulan Januari lalu diberi kesempatan lagi untuk bisa mengunjungi negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Pada tahun-tahun sebelumnya, tujuan berkunjung ke negeri tetangga ini hanyalah untuk sekedar jalan-jalan, ingin tahu, dan biar dibilang kekinian. Kali ini sedikit berbeda, bisa kembali menginjakkan kaki dengan menjadi salah satu panitia kegiatan Youth Excursion Malaysia-Singapura, 21-24 Januari 2016, yang alhamdulillah hampir tidak mengeluarkan biaya pribadi yang tidak wajar. Bergabung dalam meng-arrange kegiatan internasional untuk kali pertamanya bisa dibilang merupakan tantangan baru sekaligus kesempatan yang tak ternilai. Nah, dikarenakan jumlah panitia yang hanya 16 orang dan harus mengurus 94 peserta di negeri orang yang semuanya kami panitia yang bertanggung jawab dari persiapan acara, memilih tujuan kegiatan, menjemput peserta, dan memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Salah satu yang sempet dipikir bakal menjadi kendala yaitu transportasi, karena tidak semua tempat di Malaysia dan Singapura dapat menggunakan public transportation seperti LRT/MRT, monorail, bus, sedangkan selaku panitia kami membutuhkan transportasi yang lebih fleksibel untuk melakukan survey lokasi kegiatan, tempat makan, dan lain sebagainya. Grab Car lah jawabannya. Sebelumnya, saya memang cukup sering menggunakan moda transportasi yang lagi hits seperti GrabCar, GrabBike, Gojek, Uber dan sejenisnya di Jakarta dan sekitanya karena bisa melengkapi transportasi umum lainnya dan tentunya bisa dibilang cukup hemat. Dengan menggunakan aplikasi yang sama yang sudah terinstal di handphone, untuk pertama kalinya saya memesan Grab Car di Malaysia dengan tujuan Hotel Sentral-Cyber Jaya. Dengan biaya sekitar RM25 atau sekitar 80 ribu rupiah kami diantarkan menuju lokasi tujuan yaitu MaGic (Malaysian Global Innoation and Creativity Center). Cukup murah, karena perjalanan yang kami tempuh menuju kesana kurang lebih 40 menit tanpa macet. Jauh lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan Taxi di Malaysia yang harus tawar-tawaran sekuat tenaga. Pengalaman serupa dirasakan di negeri singa. Dengan selisih kurs yang lebih mahal dibandingkan Malaysia, tentunya menggunakan Taxi di Singapura adalah sesuatu yang tidak akan dilakukan jika tidak dalam kondisi super terdesak. Dengan tiket penerbangan yang sudah dipesan dari SIN-CGK pada penerbangan pertama pagi hari, akhirnya saya dan kedua teman memutuskan untuk mencoba memesan Grab Car untuk kali pertamanya di negeri ini. SGD 21 tertera di layar aplikasi GrabCar dari tempat awal kita memesan di Hotel Boss (dekat dengan MRT Lavender) menuju Terminal 1 Changi Airport. Masih wajar sih harga segitu apalagi dibagi 3 orang dan cukup membantu dikala memerlukan kendaraan umum alternatif menuju Changi dinihari. FYI, Grab car ini bisa kita nikmati hampur diseluruh negara di Asia Tenggara. Semakin mudah bukan? Yuk negara lagi yang mau dicoba?

Standard

Desa Mandiri Purwakarta

Desa Mandiri Purwakarta adalah program kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Purwakarta, Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian. Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat Purwakarta dalam mengatasi masalah yang terdapat di masyarakat, serta membantu meningkatkan potensi yang ada baik dari segi ekonomi, budaya, dan lainnya. Program yang diberi nama Program Desa Mandiri Berbasis Budaya di kab. Purwakarta ini merupakan suatu program berkelanjutan yang rencananya akan dicanangkan selama 3 tahun. Saat ini hanyalah langkah awal sebagai pencanangan perdana dan dimulainya bentuk kerjasama nyata ini.

Pada Sabtu, 14 November 2015, saya dan kurang lebih 30 mahasiswa UI dari berbagai fakultas yang ada mendapatkan training sebelum diterjunkan langsung di tiga desa yang ada di Purwakarta. Bangga dan syukur tak ternilai bisa bergabung bersama teman-teman yang hebat, dosen, dan seluruh tim lainnya. Ada tiga desa yang menjadi fokus lokasi program, Desa Pusakamulya, Desa Sumurugul dan Desa Nagrog. Selama tiga hari, pada tanggal 19-21 November 2015 kami berada di lokasi untuk melakukan pendekatan ke warga, data collecting, serta mencari potensi karya seni dan budaya yang ada disetiap desa tersebut.

Sebelumnya, penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta dan Universitas Indonesia dilaksanakan pada Rabu (11/2/2015) lalu.  Pemkab Purwakarta Gandeng UI Bangun 5 Desa Universitas Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, meminta kerja sama UI untuk membangun lima desa percontohan. Pembangunan dan pengembangan desa berbasis kultur akan dikembangkan di lima desa tersebut secara holistik. Lima desa yang dimaksud adalah Desa Pusakamulya di Kecamatan Kiarapedes, Desa Sumurugul dan Nagrog di Kecamatan Wanayasa, Desa Linggamukti di Kecamatan Darangdan, dan Desa Sukamulya di Kecamatan Tegalwaru. Ke depannya, Bapak Dedi Mulyadi menargetkan kelima desa itu menjadi desa adat yang seluruh kehidupannya berjalan mandiri dengan kekuatan potensi dan kulturnya. “Pertanian, pendidikan, sosio-kulturnya berjalan alamiah tanpa sentuhan modernitas sehingga nanti, ke depannya, potensi wisata desa ini akan berkembang sendiri,” tutur Dedi.

Sumber:

 

Standard

Unilever Brightfuture goes to Pulau Untung Jawa

Unilever #Brightfuture 2015

UnileverBrightFutureLogo_RGB-1-e1430417033177

3 Oktober 2015 saya sebagai salah satu volunteer untuk kegiatan Unilever Brightfuture bersama kurang lebih 80 volunteer lainnya, tim internal Unilever, Panitia dari Bina Masyarakat Peduli dan media mengunjungi Pulau Untung Jawa untuk mengajak masyarakat, siswa sekolah dasar beserta para guru untuk peduli terhadap lingkungan. Kegiatan kali ini berfokus pada pemberian materi tentang perubahan iklim yang terjadi, inspirasi cara daur ulang sampah, dan mengajarkan kepada siswa sekolah dasar tentang materi CTPS (Cuci tangan pakai sabun). Volunteers dibagi menjadi 8 kelompok yang nantinya setiap kelompok akan memberi materi dan menginspirasi para siswa, guru dan masyarakat yang dibagi dalam 8 kelas.

Pukul 7 pagi, seluruh panitia dan volunteers sudah berkumpul di dermaga 17 Marina Ancol dan kemudian dilanjutkan dengan penampilan yel-yel dari setiap kelompok, kemudian briefing dan diskusi mengenai pendalaman materi serta strategi penyampaian materi. Pukul 10.00 kami menuju Pulau Untung Jawa, alhamdulillah cuaca sangat cerah saat itu dan kami sangat menikmati perjalanan yang ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit. Setelah sampai di dermaga, kami sudah disambut sangat meriah dengan persembahan dari para siswa sekolah dasar.

Unilever

IMG_7508

IMG_7519

Setelah rangkaian penyambutan berakhir, acara intipun dimulai. Saya yang tergabung dengan kelompok 6 langsung menuju kelas. Kegiatan yang sangat positif ini mempertemukan saya dengan para guru yang ternyata sudah sangat peduli tentang linkungan. Salah satu upaya yang telah dilakukan adalah pembuatan berbagai kerajinan tangan dari berbagai bungkus bekas makanan. Hasil kerajinan sudah didistribusikan hingga Bali dan Lombok. Super amazing. Kelas sangat penuh dengan diskusi menarik antara volunteers dan para guru.

IMG_7526

IMG_7563

Para Volunteers Kelompok 6 Unilever #BrightFuture

IMG_7601

Diskusi dengan para guru

IMG_7617

Foto bersama para guru SDN 1 Pulau Untung Jawa

IMG_7566

Suasana dikelas sebelah bersama siswa sekolah dasar kelas 4

Kegiatan tak berhenti hingga disitu. sebagai bentuk upaya nyata, kami melalukan kegiatan penanaman 1000 bibit mangrove. It was absolutely marvelous! Ini kali pertama saya terjun langsung untuk penanaman bakau, dan disini saya tentunya mendapatkan pengalaman yang sangat seru tentang bagaimana cara menanam bakau yang benar.

IMG_7703

Keseruan foto-foto setelah usai menanam mangrove

IMG_7685

Foto bersama seluruh panitia dan volunteers

Kami juga diberi kesempatan untuk berkeliling untuk melihat hutan mangrove. Luar biasa indah.

IMG_7727

Terima kasih Unilever sudah memberi kesempatan untuk bergabung dikegiatan positif ini. Keep action, keep inspiring for better future. I’m waiting for next project.

Terima kasih untuk seluruh warga, adik adik dan bapak ibu guru yang sangat ramah dengan kedatangan kami. Semoga bisa kembali lagi yaa